Suatu hari ketika saya sedang mengerjakan beberapa tugas kuliah pada semester 2, seorang teman saya yang juga menjadi kakak tingkat saya berpesan:
“Sudahlah jangan terlalu rajin kuliah. Apalagi kalau hanya untuk mendapatkan IPK tinggi, karena percuma, ngga ada gunanya”
Mendengar pesan dari teman saya tersebut, saya langsung merespon dengan bertanya:
“Memangnya kenapa? Bukannya kita harus belajar yang rajin supaya dapat nilai yang bagus? Kan kalau nilainya bagus, IPK nya pasti tinggi. Kalau IPK nya tinggi, kan nanti kerjanya gampang dan perusahaan-perusahaan besar siap menggaji besar pada kita”
Teman saya langsung menjawab:
“Yasudah, terserah! Buktikan saja nanti. IPK dan Ijazah kuliah itu cuma dipake pada saat tes kelengkapan administrasi dan tes wawancara saja. Percaya sama saya”.
Saya langsung mengkerutkan dahi dan sedikit tidak percaya.
Beberapa hari kemudian, saya berusaha membuktikan apa yang ia katakan dengan melamar pekerjaan di sebuah bimbingan belajar di kota Bandung. Selain untuk mendapatkan pengalaman mengajar, juga untuk menambah uang saku ketika kuliah. Walaupun IPK saya hanya 2,95, saya berhasil lolos tahapan adminitrasi. Namun karena cara mengajar saya sangat jelek, saya tidak diterima dan gagal dalam tes microteaching.
Saya tidak putus asa. Saya terus melamar ke bimbingan belajar yang lain. Pada tahapan administrasi saya lolos, namun lagi-lagi saya gagal dalam microteaching. Perjuangan untuk melamar ke bimbingan belajar ini saya lakukan hingga 4x berturut-turut, dan dahsyatnya, keempat-empatnya saya gagal. Selama 1 bulan saya berpikir dan mencari tahu apa yang salah dari saya seihngga saya berkali-kali gagal. Hasil pemikiran dan analisis saya adalah:
1. IPK 2,95 tidak menjadi masalah, karena buktinya kelengkapan dan syarat adminitrasi selalu lolos di keempat tempat bimbingan belajar yang berbeda
2. Cara mengajar saat Microteaching saya jelek. Terlalu cepat, tidak menguasai konsep, tidak sistematis, tidak percaya diri, tulisan jelek, dll.
Setelah saya mengetahui itu, saya terus menerus memperbaiki kualitas diri saya, dan akhirnya saya putuskan untuk melamar lagi ke bimbingan belajar lain. Luar biasa, sebuah keajaiban terjadi, saya lolos di empat tahapan (Administrasi, Tes Tertulis, Tes Microteaching, Interview) dan saya diterima sebagai pengajar di bimbingan belajar tersebut.
Setelah saya diterima, saya bekerja dengan teman-teman kantor saya yang rata-rata IPK nya di atas 3,5. Walalupun demikian, saya tetap yakin dan optimis dapat bersaing dengan mereka. Hingga pada akhirnya saya mampu menjadi pengajar terbaik di bimbingan belajar tersebut selama 3 bulan berturut-turut dengan IPK (Indeks Performansi Karyawan) tertinggi. Tidak hanya itu, banyak sekali permintaan khusus dari siswa yang ingin diajar langsung oleh saya, padahal IPK saya hanya 2,95.
Sahabat, jika saat ini Anda adalah seorang mahasiswa, saya berpesan kepada Anda agar Anda kuliah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu, wawasan, pengalaman, dan mengasah softskill Anda. Jangan sampai Anda kuliah hanya untuk mendapatkan gelar atau mengejar IPK tinggi. Karena ternyata pesan yang teman saya katakan itu benar. Bahkan setelah saya cari tahu mengenai faktanya, saya dapatkan ternyata IPK hanya menduduki urutan 17 dari 20 kualitas penentu kesuksesan seseorang.
1. Kemampuan Komunikasi
2. Kejujuran / Integritas
3. Kemampuan Bekerja Sama
4. Kemampuan Interpersonal
5. Beretika
6. Motivasi / Inisiatif
7. Kemampuan Beradaptasi
8. Daya Analitik
9. Kemampuan Komputer
10.Kemampuan Berorganisasi
11.Berorientasi Pada Detail
12.Kepemimpinan
13.Kepercayaan Diri
14.Ramah
15.Sopan
16.Bijaksana
17.IPK > 3,00
18.Kreatif
19.Humoris
20.Kemampuan Berwirausaha
(Berdasarkan penelitian pada tahun 2002, yang dilakukan oleh National Association of Colleges and Employers, USA terhadap 457 pimpinan dari berbagai kalangan)
Change your life now!
Dewa Eka Prayoga
Penulis Buku ‘How To Get the Future’
0 komentar:
Posting Komentar