Aih, teriaknya jadi cewek tajir. Hm, apalagi kalo disuruh ngabisin uang seratus juta dalam sehari! Mau beli barang semahal apa pun nggak usah mikir-mikir dulu. Tapi buat Risma, jadi tajir bukan berarti harus gila belanja. Apalagi kalo dia ingat masa-masa susahnya, nyalain HP aja nggak bisa! Ya, royal sedikit sama sohibnya Voni, Ine, dan Tiwi sih, nggak pa-pa. Asal, nggak keterusan!
Ngomong-ngomong, apa hubungannya semua itu dengan kematian Tante Ester? Siapa pula Ridhan dan Sandra? Mendingan, baca aja sendiri petualangan seru para Bidadari Tapr ini, yuk! Buat kamu-kamu yang sul nge-gankjWinya masalah s; gaya gauioi sekolah, dan pe punya girl power, mendingan! buku ini. Yakin deh, nggak-a nyesel! Katakan saja dengan cinta .
BIDADARI TAJIR Penulis: Benny Rhamdani
Ilustrator: Sinta Sari
Penyunting naskah: Wiwien Widyawanti
Penyunting ilustrasi: Andi Y. A. dan Iwan Y.
Akhirnya, novel remaja pertama gue jadi juga. Ya, walaupun nggak panjang-panjang amat, novel ini udah bisa memecahkan ketakutan gue menulis novel. Selama ini yang bisa gue buat cuma cerpen-kecuali novel anak-anak kali, yeee .... Sekalian deh, sori banget buat Mbak Asma Nadia karena belum bisa nepatin janji. Nanti novel yang kedua aja, ya, mungkin lebih bagus! Trus, buat Deloners di mana aja berada. Salam kompak selalu, ya! Jangan lupa borong novel gue! Lalu, buat rekan-rekan penulis Penerbit CINTA, jangan lupa posting dong, di milis! Nggak lupa buat Wiwien sama SRK dan Micky AFI-nya: makasih ya, udah ngeditin novel gue, juga buat Meidy. E n nggak ketinggalan, buat Sinta yang ngasih ilustrasi cover. Terakhir, salam cinta buat Titin Martini dan Akhtar Aryanshah. « Empat Bidadari "JANGAN lupa, ya!"
"Oke. Asal traktirannya nggak lupa juga." "Siiip ...I" "Emang, syuting sinetron apa lagi, sih?" "Masih judul yang sama. Nambah enam episode lagi." "Lho, tokoh yang kamu maenin bukannya udah dimatiin?" "Ah ... kayak yang nggak tau sinetron kita aja. Gampang. Tinggal dihidupin lagi, jadi hantu atau bidadari." "Hahaha ...I"
DI seberang Risma, berdiri sebuah rumah besar dengan gaya modern. Rumah tersebut dibangun sekitar lima tahun lalu. Sebelumnya, Risma sering bermain di atas tanah lapangan itu bersama teman-teman kecilnya. Kayak apa rasanya tinggal di rumah segede itu, ya? Risma ngebayangin rumah yang ditinggalinya. Rumah peninggalan ayahnya yang meninggal tiga bulan lalu karena ginjal.
Dibandingin rumah di sekitar gangnya, memang nggak kecil-kecil banget, sih. Perabotan di dalamnya juga lengkap. Tapi, kalo dibandingin rumah di depannya sekarang .... Duh, kenapa jadi sirik gini, sih? Bukannya bersyukur! Masih banyak orang yang nggak punya tempat tinggal, kan? Bahkan, mereka berdesak desakan di kolong jembatan! "Masuk aja, Mbak Risma," seorang pria tanggung membuka pintu gerbang setinggi dua meter. Risma mengangguk pada Safrudin. Dia bukan pertama kali melewati pintu gerbang itu. Sudah dua tahun ini, Bu Lastri-ibu Risma-jadi penjahit pribadi Tante Ester. "Duduklah sebentar.
Jahitannya simpan aja di meja. Ini uangnya," Tante Ester langsung menyambut Risma. Perempuan berdarah Indo-Belanda itu duduk di atas kursi malasnya. Dari fisik dan kecantikannya, orang pasti mengira Tante Ester baru berumur lima puluh tahunan. Padahal, Tante Ester mengaku kalo umurnya sudah menginjak lebih dari delapan puluh tahun! Hm, bukan cuma Titiek Puspa lho, yang bisa kelihatan awet muda di usia senja.
"Mau temani Tante sarapan?"
"Saya mesti buru-buru ke sekolah, Tante. Lain kali saja."
"Ah, iya. Tapi, duduklah sebentar. Tante ingin tanya beberapa hal."
Risma mengerutkan kening. Muka Tante Ester memang datar, tapi Risma yakin ini bukan masalah enteng.
"Bagaimana keadaan keluargamu setelah ayahmu meninggal?"
Risma termangu. Dia nggak mungkin mengatakan segalanya baik-baik aja. Bagaimanapun, kehilangan tulang punggung keluarga berpengaruh pada kehidupan keluarganya. Meskipun ada uang pesangon dari perusahaan ayahnya, jumlahnya itu nggak seberapa. Dan, bisa habis dalam hitungan bulan! Mungkin, kalo ibunya nggak punya keahlian menjahit, Risma dan adik-adiknya harus berhenti sekolah.
"Gimana kalo Tante menawarkan pekerjaan untukmu?"
"Kerja?"
"Ya, di sini. Sebagai perawat Tante. Kamu bisa kerja selepas sekolah."
"Lho, bukannya ada Mbak Tantri?"
"Tante pecat kemaren. Rupanya, dia suka ngutil barang-barang di rumah ini."
Risma terbelalak. Siapa pun yang tinggal di rumah ini, pasti akan punya pikiran mengutil. Lihat aja sekeliling ruang tamu; aneka perabot antik dari kayu jati, ditambah seabrek barang hiasan mulai yang mini sampai yang besar. Segala barang elektronik juga ada.
"Pikirkan baik-baik. Tante memilihmu karena Tante mengenalmu, Ris."
"Boleh tanya ibu dulu?"
"Ya, sebaiknya memang begitu. Ah, Tante sudah mengambil waktumu cukup banyak. Berangkatlah sekolah, nanti kamu terlambat. Kabari Tante secepatnya, ya!"
Risma pamit sambil menundukkan kepala. Kini, di kepalanya, Risma terus memikirkan tawaran Tante Ester tadi.
"... Tante mengenalmu, Ris ...."
Hmmm gimana bisa?
Risma baru ketemu Tante Ester enam kali. Itu pun hanya sekitar lima menit. Mungkin, tadi insting Tante Ester yang bicara, seperti saat beliau memutuskan memilih ibunya menjadi penjahit pribadi Tante Ester.
Lalu, bekerja sepulang sekolah?
Kalo ada ayahnya, pasti dia nggak diizinin. Risma pernah ngungkapin keinginannya bekerja sambil sekolah. Kebetulan, ada yang mengajaknya jadi guru les anak SD. Tapi, ayah Risma melarang. Menurut ayahnya, memenuhi nafkah keluarga adalah tanggung jawab orangtua. Anak-anak cukup sekolah dan mengaji!
Namun, Pak Firman sudah tiada. Walaupun baru tiga bulan, kehidupan di rumah mulai berubah.
Uh, ngapain aku jadi sedih gini ya, pagi-pagi?! Risma menepis kenangan suram itu.
"SI Faisal itu brengsek banget!"
Risma, Tiwi, dan Ine langsung terkejut mendengar suara menggelegar Kikan.
"Sebulan lalu, playboy cap kadal itu mendekati Izza. Lalu dalam tempo dua minggu, dia berhasil membujuk Izza jadi pacarnya. Sampai-sampai, Izza diomongin teman-teman di Rohis. Masa pakai jilbab pacaran? Akhirnya, Izza buka jilbabnya demi Faisal. Dan, kemarin ... Faisal memutuskan hubungannya dengan Izza, terus menggaet anak baru di kelas satu," Kikan terus nyerocos seperti presenter tayangan gosip di teve.
"Salah Izza juga. Lagian, mau-maunya diajak pacaran sama Faisal yang reputasinya udah jelek," komentar Tiwi yang kenal betul sosok Izza. Dulu pun, Izza pake Jilbab karena ingin mendekati Kodrat, anak Rohis.
Risma dan Ine nggak mau menanggapi. Bisa bisa, waktu istirahat mereka dihabisin buat ngegosip. Padahal, mereka lagi asyik menikmati mi ayam Bu Roso. Rugi banget dan nggak penting, pikir Risma.
"Elo kok, diem aja, Ris? Sebagai cewek yang pake jilbab juga, mestinya ikut marah, dong!" usik Kikan dengan mulut monyong
mirip ikan mujaer ke luar kolam.
"Nggak, ah! Nanti, dikira aku naksir Faisal kalo ikut campur urusan mereka," timpal Risma sambil tetep mengaduk-aduk mi di mangkuk.
Jawaban yang menohok Kikan. Ya, selama ini, mereka tau kalo diam-diam Kikan naksir Faisal. Semua gerak-gerik Faisal selalu diikuti Kikan.
"Ceritanya nyindir gue, nih?" tanya Kikan.
"Nggak. Aku nggak bermaksud nyindir kamu, kok!
" Tiwi dan Ine tertawa.
Kikan melengos kesal. Lalu, dia nyari meja lainnya yang tertarik ngegosipin Faisal. Mungkin, kepalanya bisa langsung ketombean kalo nggak nyebarin gosip terhangat setiap pagi.
"Dasar biang gosip!" umpat Tiwi.
"Sebenarnya, aku kasihan juga sama Izza," timpal Risma. "Dari kemaren, dia seperti minder. Nggak mau ke luar kelas. Dan, kayaknya dia malu kalo ketemu aku atau teman-teman lain yang pake jilbab.
" Tiwi mencibir. "Aku pernah nasihatin Izza, tapi dia kepala batu. Mestinya, dia siap dengan risikonya sekarang ini," katanya tegas.
Begitulah Tiwi-dengan tinggi badan 165 senti, berkacamata, rambut sebahu-yang tegas. Di kelompok itu, Tiwi bisa dibilang sebagai pemimpin. Otaknya lumayan encer. Satu-satunya yang dibenci adalah cowok. Hah?! Cewek kok, anticowok?! Jangan-jangan ... ssst! Nggak, kok. Mungkin, Tiwi jadi begitu karena waktu kecil, ayahnya menelantarkan ibunya.
Di samping Tiwi, ada Ine yang super pendiam. Jarang ngomong kalo nggak ditanya. Bahkan,
banyak yang mengira Ine adalah patung boneka. Dia-dengan tinggi badan 160 senti, berambut lurus panjang, dagu khas putri keraton-baru bergabung ketika naik ke kelas dua, gara-gara wali kelas mereka menyuruh Tiwi duduk sebangku dengan Ine. Sebenarnya, penyebab Ine diam mudah ditebak. Logat bicaranya masih dialek Jawa medok. Maklum, Ine memang berdarah keraton Yogya. Lantaran pernah disorakin teman sekelasnya ketika bicara di depan kelas, dia kapok banyak ngomong lagi.
Masih ada Voni, teman sebangku Risma. Hari ini, dia-dengan tinggi badan 170 senti, tampang Indo, model rambut gonta-ganti potongan dan warna-nggak masuk karena katanya ada jadwal syuting mendadak di pagi hari. Tentu aja, kabar yang sampai ke wali kelas bukan itu. Tapi ... kabar Voni mendadak demam!
"Eh, tuh si Dodo nyamperin ke sini!" tunjuk Tiwi sambil menggeser duduknya.
Cowok yang dipanggil Dodo itu aslinya bernama Didi Rahadi. Cuma, karena bentuk tubuhnya menyerupai huruf "O", orang lebih suka memanggilnya Dodo. Fakta sebenarnya, dia nggak gemuk-gemuk amat, sih. Terutama, kalo berada di kumpulan atlet sumo Jepang!
"Udah sehat, Do?" sapa Risma.
"Lumayan. Ternyata, kemaren tuh cuma gejala typhus," timpal Dodo sambil duduk di samping Tiwi. Bangku yang didudukinya langsung menjerit mengeluarkan bunyi "kriek". "Lumayan, deh, jadi turun dua ons nih, badan."
"Bagus kalo memang udah sehat. Nanti sore ada pendaftaran personel Club Eighties di Senayan, tuh," sela Tiwi.
"Lho, apa hubungannya? Gue kan, nggak bisa main band."
"Bukan Club Eighties yang grup band itu. Maksudnya, kelompok ini khusus orang-orang yang beratnya sekitar delapan puluh kilo alias eighties kilo," sahut Tiwi sambil terkekeh.
Dodo bukannya marah, malah ikut tertawa. "Gue udah lewat, nih. Udah sembilan puluh kilo lebih, tau!"
Tawa mereka kian meledak.
"Ngomong-ngomong, Sabtu nanti, Voni jadi traktir nonton sama makan-makan nggak, sih?" tanya Dodo mengingatkan janji si Bintang Sinetron itu. Seperti biasa, kalo sehabis menandatangani kontrak apa pun, Voni selalu nraktir di akhir pekan. Itung-itung ngebales kebaikan mereka buat minjemin catatan pelajaran kalo dia bolos.
"Yang aku tau sih, jadi. Kemarin, dia malah yang ngingetin kita. Begitu kan, Ris?" sahut Tiwi.
Risma mengangguk. "Tapi, katanya nggak jadi di Blok M. Nggak seru kalo kita lagi asyik ngumpul, tau-tau ada penggemar Voni yang ngajak foto bareng. Mungkin, di Mal Pondok Indah atau Plaza Senayan. Di sana, artis belanja kan, udah nggak aneh," tambah Risma.
"Kamu ikut, Ne?"
Ine mengangguk ke arah Tiwi.
"Dandan yang rapi dan nggak usah ngomong. Nanti, kita semua dikira inang-inangnya," celetuk Dodo.
Semua kembali tertawa, termasuk Ine. Dia nggak pernah sakit hati kalo diledek gaya medoknya oleh sahabat-sahabatnya. Tapi, kalo sama orang lain ....
VONI tergelak lebar. Matanya kemudian menatap nanar. Tangannya yang tadi mengacak-acak rambut segera menggenggam pisau di dekatnya.
"Aku akan membunuhmu! Tunggu saja!" teriak Voni. Sepi.
"Cut! Bagus, Voni. Kita break satu jam." Sutradara muda berwajah tampan itu menghampiri Voni.
Voni berusaha meredam hatinya yang berdebar. Setiap sosok tegap itu mendekat, perasaannya selalu nggak keruan.
"Mau makan siang bareng?" tanya Dimas, sang sutradara.
"Ng ...terima kasih, Bang. Voni janji makan bareng mama. Maaf, permisi." Voni buru-buru ninggalin Dimas sembari jalan hati-hati agar nggak tersangkut kabel yang berseliweran.
Di ruang rias, Bu Malika langsung menyambutnya dan membantu Voni menghapus riasan yang membuatnya tampak seperti orang stres.
"Ma, tadi Bang Dimas ngajak makan siang, tapi Voni nolak," lapor Voni.
"Kenapa nggak diterima aja? Dia itu sutradara, lho!"
"Voni nggak enak aja. Tadi, ada beberapa wartawan yang ngeliat syuting. Kalo ketahuan Voni dekat sama Bang Dimas, pasti jadi bahan gosip mereka."
"Lho, apa salahnya? Makin sering digosipin, kamu makin cepat populer!"
"Ma, Voni pengin jadi aktris, bukan selebritis!" Bu Malika mendengus pelan.
"Ngomong-ngomong, Sabtu sore Voni break, kan?" tanya Voni
Coming soon.............................